Mendaki Gunung Sama dengan Outbound

Mendaki Gunung Sama dengan Outbound

Hobby berkegiatan di alam bebas bagi sebagian orang, tentulah bukan tanpa resiko. Alhasil semakin  seringmelakukannya dan terbiasa mengatasi tantangan dan meminimalisir resiko, maka semakin meningkat pula rasa ingin memperoleh tingkat kesulitan yang lebih lagi. Inilah jika cairan adrenalin dalam tubuh terus diajak

berkecimpung dengan resiko-resiko tinggi dan kita  berhasil melewatinya, maka semakin hauslah diri kita akan sebuah petualangan yang lebih ekstrem.

Dalam hobby mendaki gunung pun kondisi kepuasan seseorang tentunya akan mencapai titik nadirnya, jika ia sudah menjelajahi seluruh gunung di negeri ini, melakukan perjalanan berhari hari, melalui rute pendakian konvensional, lambat laun dapat dipastikan rasa haus akan nuansa petualangan yang  berbeda dari sebelumnya pastilah ia dambakan dan ingin ia ciptakan. Bisa jadi kalau selama ini dalam pendakian selalu menggunakan tenda doom yang nyaman, dia akan beralih hanya menggunakan selembar palyshet sebagai atap untuk tidurnya.

Begitu juga dengan mendaki gunung tetapi melakukan perintisan jalur baru atau finding route, adalah sebuah upaya untuk menciptakan nuansa baru dalam dirinya ketika melakukan perjalanan pendakian gunung. Membuat atau merintis jalur baru untuk menuju dan mencapai sebuah puncak gunung, bukan hanya sekedar aktivitas berjalan menanjak asal pijak dan terobos, lebih dari itu, finding route menuntut Skill dan Seni dalam perjalanannya khusunya dalam mendaki gunung. Skill kaitannya dengan pemahaman aplikasi penggunakaan peralatan navigasi. Seni sangat erat hubugannya dengan bagaimana seseorang itu mengolah sebuah perjalanan panjang, membuat program latihan fisik dan teori serta simulasi, memanajemen resiko, logistic, peralatan bahkan  hingga pembagian kerja tim . Rumit memang, tetapi akan menjadi hal yang sangat luar biasa serta menjadi terbiasa jika kita mampu melakukannya.

Mendaki gunung dengan merintis jalur baru, semakin mematangkan diri dari segi mental, fisik dan juga skill,   khususnya yang berkaitan dengan gunung hutan dan manajemen perjalanan. Segi mental akan berdampak secara positif pada sisi psikolgis pelakunya, jika dalam fase kegiatannya banyak mengalami trouble-trouble dan dia mampu mengatasinya. Selain itu melatih diri dalam mengambil keputusan yang cepat dan tepat berdasarkan pertimbangan dari berbagai aspek yang telah ia tentukan sebelumnya, misalnya sisi waktu, ketersediaan makanan, jalur evakuasi, tingkat kesulitan medan dan lainnya.

Perintisan jalur baru dalam pendakia gunung bukanlah hal yang baru, khususnya di Indonesia, metode pendakian dengan perintisan jalur baru  ini sudah sejak dulu diterapkan, khususnya oleh para penggiat alam bebas yang tergabung dalam organisasi kepecinta alaman. Metode perintisan jalur baru mereka terapkan dalam system di organisasi, misalnya untuk peningkatan jenjang keanggotaan, atau dijadikan sebuah program ekpedisi dengan objek gunung tertentu yang memiliki nilai prestesius jika  pendakiannya dilakukan dengan cara perintisan jalur baru yang selanjutnya akan mereka pertanggung jawabkan pada organisasi masing-masing.

  Jika mendaki gunung memiliki banyak nilai positif bagi pembangunan prilaku positif dan karakter toh tidak ada salahnya jika sebuah perusahaan dalam upaya meningkatan kompetensi pegawainya baik secara fisik dan juga mental, serta kognisi, afeksinya dibangun melalui kegiatan pendakian gunung dengan merintis jalur baru. Akan banyak manfaat yang diperoleh, dari sisi pihak Perusahaan kita dapat mengkaji prilaku setiap peserta atau karyawan yang megikuti kegiatan ini, selain itu juga secara tidak langsung kita sudah mengarahkan mereka menuju pembangunan mental pribadi, kerja tim dan juga melatih kepiawaian mereka dalam hal memanajemen waktu, logistik, jiwa  leadership dan lainnya. Bagi peserta sendiri, dengan ikut sertanya mereka dalam kegiatan ini, mereka akan memperoleh pengalaman yang berharga walau mungkin hanya satu kali saja mereka melakukannya, tapi dapat dipastikan moment tersebut akan  menjadi sebuah parameter mereka dalam setiap kesehariannya ketika kembali kelingkungan kerja. Sebagai referensinya kita dapat sharing dengan orang-orang yang sudah berpengalaman atau dengan organisasi Pecinta Alam yang menerapkan metode ini. Mereka dapat kita jadikan sebagai sumber atau pun sebagai pihak yang dilibatkan dalam penyelenggaraan Pelatihan Employment yang berbasiskan Alam Bebas. Mungkin mereka kita tempatkan dalam sisi materi operasionalnya, sedangkan pihak perusahaan melalui divisi HRD sebagai pihak yang mendesign format penilaian dan pengkajian prilaku dan karakter, jika kedua pihak  berkolaborasi maka pastilah kwalitas program pengembangan atau peningkatan prilaku individu dalam sebuah perusahaan/company melalui Pelatihan yang berbasis Alam Bebas yag saat ini lebih tren dengan Outbound Training memiliki kekuatan dalam mencapai tujuan melalui fase-fase proses yang diterapkan, sehingga para pelakunya pun dapat mempertanggung jawabkan dari apa yang ia peroleh baik secara individu atau sebagai bagian dari perusahaan.

Dengan upaya perusahaan menyelenggarakan pelatihan yang berkaitan dengan pengembangan prilaku dan   karakter ini adalah sebuah usaha untuk menyiapkan SDM-SDM yang siap dan tangguh dalam menghadapi tingkat persaingan.  Zaman menuntut SDM-SDM yang memilki daya tahan yang kuat dalam setiap menghadapi tantangan, tenang dalam setiap mengerjakan yang sulit, mempunyai jiwa kompetensi, mau mengembangkan kemampuan diri, dapat bekerja sama, memiliki integritas, nilai moral, dan memiliki motivasi yang tinggi dan mempunyai komitment tinggi yang diwujudkan dalam setiap tugas dan tanggung jawabnya.

“ prilaku kerdil seseorang dikarenakan dia tidak pernah mengalami hal yang luar biasa dalam hidupnya”

Tabula Adventure

http://tabula-adv.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *