Pengalaman Pembangunan Wahana Outbound

PENGALAMAN PEMBANGUNAN WAHANA OUTBOUND
Banyak cerita dan lika liku yang kami hadapi dalam setiap mendapatkan pekerjaan pembangunan wahana outbound di tempat wisata. Baik pembangunan wahana outbound yang berlokasi di kawasan Jawa Barat mau pun yang pembangunan wahana outboundnya berada jauh di luar Pulau Jawa. Tulisan dengan judul Pengalaman Dalam Pembangunan Wahana Outbound ini, hanya sekedar ingin berbagi cerita serta proses dari pengajuan proposal pembangunan wahana, negosiasi harga pembangunan wahana outbound hingga tahapan proses pelaksanaan pembangunan wahana outbound khususnya di tempat – tempat wisata.

Pengalaman pertama kali kami secara Badan Hukum mendapatkan pekerjaan pembangunan wahana outbound yaitu kisaran tahun 2005, yaitu di kawasan tempat wisata di Kabupaten Bandung Barat, saat itu masih bergabung dengan Kabupaten Bandung. Walau sebelumnya secara individu para tim teknis pembangunan wahana outbound Tabula Adventure sudah sering mengerjakan berbagai projek pembangunan wahana outbound, namun secara tim yang tergabung dalam sebuah badan hukum, saat itu adalah sebuah langkah pertama dan baru bagi kami.

Mau tidak mau kami dituntut secara professional untuk menyelesaikan tahapan demi tahapan proses pembangunan wahana outbound tersebut. Dan projek pertama inilah yang menjadikan tim pembangunan wahana outbound Tabula Adventure, semakin memahami seluk beluk sebuah pekerjaan Jasa Pembangunan Wahana Outbound. Hal – hal yang justru tantangannya dalam pekerjaan pembangunan wahana outbound justru lebih banyak terdapat dalam segi non teknis, terutama dalam proses negosiasi untuk menjadikan sebuah kesepakatan pekerjaan pembangunan wahana outbound., terutama jika pekerjaan pembangunan wahana outbound tersebut proses negosiasinya melalui pihak ke tiga (3 ), ini justru semakin memperumit suasana pra pekerjaan pembangunan wahana outbound, bagaimana tidak, pihak ke tiga atau dapat disebut sebagai perantara antara Tabula Adventure dan pihak owner, cenderung akan melakukan tekanan yang amat sangat minim terhadap harga penawaran, mereka cenderung menggunakan prinsip modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya”, padahal biasanya mereka hanya sekedar bermodalkan pulsa atau hanya sekedar pandai bicara, terutama terhadap pihak yang akan menggunakan jasa Tabula Adventure untuk pembangunan wahana outbound.

Ada juga cerita yang menurut kami sungguh sangat menyedihkan tapi ada lucu dan anehnya juga, ini terjadi kisaran tahun 2006, ketika itu Tabula Adventure mendapatkan penawaran kerja sama untuk membangunan wahana outbound di kawasan Garut. Pada saat itu kami diminta untuk memberikan proposal penawaran Jasa Pembangunana Wahana Outbound oleh seseorang yang ternyata beliau adalah menantu dari owner yang akan menggunakan jasa kami untuk membangunan wahana outbound dan hi rope di lokasi tanah yang ia milliki. Setelah proposal diterima, 2 hari kemudian dari pihak Owner meminta kami untuk melakukan survey. Survey lokasi bakal lokasi pembangunan wahana outbound bagi kami, jika berada di luar kota dan kabupaten Bandung , haruslah dikenakan biaya transportasi dan konsumsi tim kerja, hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa pekerjaan tersebut belumlah tentu diberikan kepada kami, selain itu juga biasanya pihak broker atau perantara biasanya hanya sekedar basa-basi saja, cenderung tidak serius, berbeda jika kita langsung berhubungan dengan pihak owner.

Setelah melakukan survey, pengukuran, pihak perantara owner waktu itu meminta kami untuk membuatkan sebuah rancang bangun dan design dari wahana outbound yang akan dibangun. Kembali kami jelaskan, bahwa jika sudah memasuki tahapan pembuatan design untuk pembangunan wahana outbound, seharusnya kita sudah dalam tahapan kesepakatan kerja sama yang dituangkan secara tertulis, kecuali jika hanya sekedar gambar general dari wahana outbound yang akan dibangun, tanpa ukuran detil seperti layaknya gambarnya teknis, itu dapat kami berikan. Dengan mulut manisnya yang menjanjikan bahwa pasti Tabula Adventure akan digunakan jasanya untuk pelaksanaan pembangunan wahana outbound di tempat mertuanya, dan beliau pun mengajak kami untuk melakukan negosiassinya di rumah owner, kami pun percaya dan yakin kalau pekerjaan pembangunan wahana outbound itu akan diberikan kepada kami. Namun apa yang terjadi, setibanya di rumah beliau, seolah sudah beliau setting, bahwa istrinya yang memegang uang DP sebagai tanda jadi akan dilakukannya pekerjaan pembangunan wahana outbound, lagi keluar rumah, dan kami harus menunggu selama 3 jam lebih. Namun akhirnya kami kecolongan juga, broker atau perantara yang nota bene adalah menantu dari owner meminta kami bersabar, jika ingin pulang terlebih dahulu silahkan, begitu menurut beliau, namun kalau bisa proposal yang lengkap dengan gambar teknis ditinggal saja beserta nomer rekening CV. Tabula Adventure, agar nanti begitu istirinya datang, segera ditransfer sebagai tanda jadi projek pembangunan wahana outbound. Akhirnya kami pun menurut saja, selain karena sudah lelah menunggu, kami pun harus menuju lokasi lainnya yang harus di survey.

Satu minggu, dua minggu tidak ada kabar, yang lucunya setiap dikonfirmasi via teleppon atau sms, si perantara pembangunan wahana outbound tidak kunjung membalas atau merespon komunikasi dari kami. Toh dunia outbound khususnya pekerjaan pembangunan wahana outbound, bukanlah hal yangb besar yang bisa disembunyikan, akhirnya setelah 2 bulan berlalu, kami pun mendapatkan informasi dari rekan seprofes dalam bidang jasa pembangunan wahana outbound. Bahwa pekerjaan pembangunan wahana outbound yang berlokasi di Garut tersebut sudah dikerjakan oleh individu-individu yang nota bene tidak memilki badan hukum. Sudah bisa dipastikan si perantara atau broker jasa pembangunan wahana outbound tersebut ingin mendapatkan persentase yang lebih besar lagi, padahal dengan kami sudah sepakat bahwa beliau akan mendapatkan 5% dari nilai transaksi, walau sebetulnya dengan pola pemberian persentase seperti ini, kami harus menekan biaya operasional tanpa menurunkan spec atau kwalitas dari apa yang telah menjadi penawaran kami yang tertuang dalam proposal pembangunan wahana outbound. Persentase atau fee itu ada, dan memang selalu dianggarkan, namun jika berhubungan langsung dengan pihak owner, biasanya kami meniadakan fee tersebut, nah yang terjadi di Garut, kami sudah meniadakan fee marketing untuk broker atau perantara jasa pembangunan wahana outbound, ternyata kami harus memberikan juga fee marketingnya, karena sebelumnya broker tersebut memperkenalkan diri kepada kami sebagai owner langsung. Dengan punya dengar, ternyata broker pembangunan wahana outbund tersebut juga meminta fee yang lebih besar kepada pelaksana pembangunan wahana outbound, cerdiknya dia, nilai pekerjaan yang tertuang dalam proposal pembangunan wahana outbound yang kami berikan, dia jadikan acuan sebagai pembanding, begitu juga dengan kesepakatan fee marketingnya…..hehehhe.

Nanti kita lanjut lagi yaaaaa dengan cerita-cerita lucu dan mengesalkan lainnya dari pengalaman yang didapatkan dalam pekerjaan pembangunan wahana outbound.

TABULA ADVENTURE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *